HIGHLIGHT NEWS

Mahalnya Tarif Listrik-Biaya Logistik Tinggi Kendala Ekspor Tekstil Indonesia

Jakarta Produk industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia masih kalah bersaing dengan produk asal Vietnam dan Bangladesh. Hal itu terlihat dari nilai ekspor produk tekstil Indonesia pada 2016 yang hanya mencapai 11,9 miliar dolar AS, sedangkan Vietnam mencapai 30 miliar dolar AS.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat, belum lama ini kepada awak media memaparkan, setidaknya ada beberapa hal yang menghambat perkembangan industri tekstil nasional. Pertama, mahalnya tarif listrik. Energi di Indonesia termahal dibanding kompetitor Vietnam dan Bangladesh.

Kedua adalah hambatan biaya logistik dan sarana infrastruktir yang belum sepenuhnya mendukung perkembangan industri tekstil. “Setiap tahun penduduk bertambah, kendaraan bertambah dan jalan tidak bertambah sehingga produk logistiknya menurun. Moda transportasi pakai kereta api juga ada keterbatasan, karena harus full container load, nggak bisa less than container load (LCL),” ungkap Ade.

Ade menambahkan, permasalahan lainnya adalah terkait dengan sistem birokrasi dan perizinan yang belum berpihak kepada sektor industri. Kemudian, permasalahan pengenaan bea masuk produk tekstil Indonesia di Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa. “(Impor) ke Uni Eropa dan AS kena 10 persen-17 persen bea masuk, Vietnam dan Bangladesh nol persen. Kita (Indonesia) dianggap negara maju karena Indonesia masuk ke G20 jadi dianggap negara maju,” ujarnya.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, sepanjang tahun 2016 nilai investasi TPT mencapai Rp 7,54 triliun. Industri ini mampu menghasilkan devisa sebesar 11,87 miliar dolar AS dan mampu menyerap sebanyak 17,03 persen dari total tenaga kerja industri manufaktur.

Source : Industry.co.id